Kamis, 13 Juni 2013

Aliran Essensialisme

BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat sebagai hasil pemikiran para ahli filsafat atau para filosof sepanjang kurun waktu dengan objek hidup di dunia, telah melahirkan berbagai macam pandangan. Pandangan – pandangan para filosof tersebut, adakalanya satu dengan yang lain hanya bersifat saling menguatkan, tetapi tidak jarang pula yang berbeda atau berlawanan. Hal ini antara lain disebabkan terutama oleh pendekatan yang dipakai oleh filosof berbeda-beda, walaupun objek permasalahannya sama. Karena perbedaan dalam sistem pendekatan itu, maka kesimpulan yang dihasilkannya menjadi berbeda – beda pula, bahkan tidak sedikit yang saling berlawanan.
Dalam filsafat terdapat berbagai aliran,  seperti aliran Esensialisme. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat memiliki berbagai macam aliran, maka dalam filsafat pendidikan akan kita temukan juga berbagai macam aliran. Adapun aliran Esensialisme dalam filsafat pendidikan akan kita bahas pada makalah ini.













BAB II
PEMBAHASAN

A.      Latar Belakang Aliran Essensialisme
Essensialisme merupakan filsafah pendidikan tradisional yang memandang bahwa nilai-nilai pendidikan hendaknya bertumpu pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama sehingga menimbulkan kestabilan dan arah yang jelas pula. Nilai –nilai Humanisme yang dipegangi oleh Esensialisme dijadikan sebagai tumpuan hidup  untuk menentang kehidupan yang materialistik, sekuler dan saintifik  yang gersang dari nilai-nilai kemanusiaan. Gerakan Essensialisme modern sebenarnya berkembang pada awal abad ke-20 dan muncul sebagai jawaban atas aliran Progresivisme.
            Essensialisme mempunyai pandangan bahwa manusia itu adalah makhluk budaya, artinya makhluk yang hidupnya dilingkupi oleh nilai dan norma budaya. Ibarat orang yang berjalan atau melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan maka yang dimaksud dengan rambu-rambu lalu lintas perjalanan adalah nilai dan norma budaya. Jadi, manusia selalu mempunyai ikatan dengan nilai dan norma budaya.
            Dengan memperhatikan pandangan essensialisme maka bila seseorang akan mengalami diskontinuitas dalam hidupnya, dapat dikurangi atau dicegah karena orang tersebut mempunyai potensi untuk memelihara hubungan yang positif terhadap nilai dan norma budaya yang dewasa ini atau yang akan datang. Dengan adanya peran yang positif itulah manusia dapat hidup dalam keseimbangan dengan lingkungannya. Aliran essensialisme mempunyai konsep yang dapat digunakan oleh manusia dalam menghadapi diskontinuitas serta mencegah atau menghindarinya.
            Seperti halnya perealisme yang mengambil sikap regressive road to culture, essensialisme meletakkan dasar-dasar pemikirannya pada kebudayaan dan falsafah yang korelatif setelah timbulnya renaissance. Puncak refleksi dari gagasan ini adalah paroh kedua abad ke-19, Essensialisme pada mulanya muncul sebagai reaksi terhadap simbolisme multlak dan dogmatisme abad pertengahan. Maka, para essensialis menyusun konsepsi secara sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang dapat memenuhi tuntutan zaman modern.
            Dalam hubungannya dengan pendidikan, Essensialisme menekankan pada tujuan pewarisan nilai kultural-historis kepada peserta didik melalui pendidikan yang akumulatif dan terbukti dapat bertahan lama serta bernilai untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini dilaksanakan dengan memberikan skill, sikap dan nilai-nilai yang tepat, yang  merupakan bagian esensial dari unsur-unsur pendidikan.

B.       Pandangan Essensialisme dan Penerapan di Bidang Pendidikan
1.    Pandangan essensialisme mengenai belajar idealisme, sebagai filsafat hidup memulai tinjaunnya mengenai pribadi individu dengan menitik beratkan pada ‘aku’.
Menurut idealisme, bila seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, lalu bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos.
2.    Pandangan essensialisme mengenai kurikulum beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan organisasi yang kuat. Bogoslousky mengutarakan, di samping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat di umpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian : 1. Universum: pengetahuan merupakan latar belakang adanya kekuatan segala manifestasi hidup manusia. 2. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup aman dan sejahtera. 3. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan. 4. Kepribadian: Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor fisik, fisiologi, emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan, dapat berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.

C.  Prinsip – prinsip Pendidikan menurut aliran Essensialisme
Prinsip – prinsip pendidikan yang didasarkan pada aliran essensialisme adalah :
1.    Belajar pada dasarnya melibatkan kerja keras dan kadang – kadang dapat menimbulkan keseganan dan menekankan pentingnya prinsip disiplin. Terhadap pandangan progresivisme yang menekankan minat pribadi, mereka menerimanya sebagai konsep untuk berbuat namun minat yang paling tinggi dan dapat lebih bertahan tidak diperoleh sejak awal atau sebelum belajar namun timbul melalui usaha keras.
2.      Inisatif dalam pendidikan harus ditekankan pada pendidik bukan pada anak. Peranan guru dalam menjebatani antara duni orang dewasa dengan dunia anak. Guru telah disiapkan secara khusus untuk melaksanakan tugas di atas sehingga guru lebih berhak membimbing murid – muridnya.
3.    Inti dari proses pendidikan adalah asimilasi dari subjek materi yang telah ditentukan. Kurikulum diorganisasikan dan direncanakan dengan pasti oleh guru. Esensialisme mengakui bahwa pendidikan akan mendorong individu merealisasikan potensialitasnya tetapi realisasinya harus berlangsung dalam dunia yang bebas dari perorangan. Karena itu sekolah yang baik adalah sekolah yang berpusat kepada masyarakat sebab kebutuhan dan minat sosial diutamakan. Minat individu di hargai namun diarahkan agar siswa tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri.
4.    Sekolah harus mempertahankan metode – metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. Esensialisme mengakui bahwa metode pemecahan masalah ada faedahnya, namun bukan suatu prosedur untuk melaksanakan bagi seluruh proses belajar.
5.    Tujuan akhir dari pendidikan ialah untuk meningkatkan kesejahteraan umum, karena dianggap merupakan tuntunan demokrasi yang nyata.

D.      Ciri – ciri Aliran Essensialisme
Aliran Essensialisme memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu serta kurang stabil. Karena itu pendidikan haruslah diatas pijakan nilai yang dapat  mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh waktu, tahan lama dan  nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi.

E.   Pola Dasar Pendidikan Essensialisme
Imam Barnadib (1985)11) mengemukakan beberapa tokoh yang berperan dalam penyebaran aliran essensialisme, dan sekaligus memberikan pola dasar pemikiran pendidikan mereka.
1.      Desiderius Erasmus, adalah tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada “dunia lain”. Ia berusaha agar kurikulum di sekolah bersifat humanistis dan bersifatninternasional, sehingga semua dapat diikuti oleh kaum tengahan dan aristokrat.
2.      Johan Amos Comenius (1592-1670), ia berusaha mensistematiskan proses pengajaran. Ia juga memiliki pandangan yang realis yang dogmatis.
3.      John locke (1632-1704), pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
4.      Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827) mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu manusia juga mempunyai transendental langsung dengan Tuhan.
5.      Johann Friederich Frobel (1782-1852), corak pandangannya bersifat kosmissintetis, dan manusia adalah makhluk Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini. Terhadap pendidikan ia memandang anak sebagai makhluk yang berekspressi  kretif, dan tugas pendidikan adalah memimpin peserta didik kearah kesadaran diri sendiri yang murni.
6.      Juhann Fiedrich Herbart (1776-1841), tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari  Yang Mutlak, yaitu penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan, dan ini yang disebut “pengajaran yang mendidik” dalam proses pencapaian tujuan pendidikan.
7.      William T.Harris (1835-1909), menurut dia tugas pendidikan adalah mengizinkan terbukannya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan spiritual. Keberhasilan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri  setiap orang kepada masyarakat.
Pada tahun 1930 para tokoh Esensialisme mendirikan organisasi atau komite: “Essensialist Committee for the Advancement of Education”. Melalui organisasi inilah pandangan-pandangan essensialis dikembangkan dalam dunia pendidikan, yang sedikit banyak diwarnai juga oleh konsep-konsep pendidikan yang idealisme dan realisme, sebab kedua aliran itu mengalir menjadi satu membentuk konsep-konsep berfikir golongan Essensialisme.

BAB III
PENUTUP

Essensialisme merupakan filsafah pendidikan tradisional yang memandang bahwa nilai-nilai pendidikan hendaknya bertumpu pada nilai-nilai yang jelas dan tahan lama. Essensialisme meletakkan dasar-dasar pemikirannya pada kebudayaan dan falsafah yang korelatif setelah timbulnya renaissance.
Aliran Essensialisme memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu serta kurang stabil. Melalui organisasi Essensialist Committee for the Advancement of Education” pandangan-pandangan essensialis dikembangkan dalam dunia pendidikan, yang sedikit banyak diwarnai juga oleh konsep-konsep pendidikan yang idealisme dan realisme.