BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat sebagai hasil pemikiran
para ahli filsafat atau para filosof sepanjang kurun waktu dengan objek hidup
di dunia, telah melahirkan berbagai macam pandangan. Pandangan – pandangan para
filosof tersebut, adakalanya satu dengan yang lain hanya bersifat saling
menguatkan, tetapi tidak jarang pula yang berbeda atau berlawanan. Hal ini
antara lain disebabkan terutama oleh pendekatan yang dipakai oleh filosof
berbeda-beda, walaupun objek permasalahannya sama. Karena perbedaan dalam sistem
pendekatan itu, maka kesimpulan yang dihasilkannya menjadi berbeda – beda pula,
bahkan tidak sedikit yang saling berlawanan.
Dalam filsafat terdapat berbagai
aliran, seperti aliran Esensialisme. Karena filsafat pendidikan merupakan
terapan dari filsafat, sedangkan filsafat memiliki berbagai macam aliran, maka
dalam filsafat pendidikan akan kita temukan juga berbagai macam aliran. Adapun
aliran Esensialisme dalam filsafat pendidikan akan kita bahas pada makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Latar Belakang Aliran Essensialisme
Essensialisme merupakan filsafah pendidikan tradisional yang
memandang bahwa nilai-nilai pendidikan hendaknya bertumpu pada nilai-nilai yang
jelas dan tahan lama sehingga menimbulkan kestabilan dan arah yang jelas pula.
Nilai –nilai Humanisme yang dipegangi oleh Esensialisme dijadikan sebagai
tumpuan hidup untuk menentang kehidupan
yang materialistik, sekuler dan saintifik
yang gersang dari nilai-nilai kemanusiaan. Gerakan Essensialisme modern
sebenarnya berkembang pada awal abad ke-20 dan muncul sebagai jawaban atas
aliran Progresivisme.
Essensialisme
mempunyai pandangan bahwa manusia itu adalah makhluk budaya, artinya makhluk
yang hidupnya dilingkupi oleh nilai dan norma budaya. Ibarat orang yang
berjalan atau melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan maka yang
dimaksud dengan rambu-rambu lalu lintas perjalanan adalah nilai dan norma
budaya. Jadi, manusia selalu mempunyai ikatan dengan nilai dan norma budaya.
Dengan
memperhatikan pandangan essensialisme maka bila seseorang akan mengalami
diskontinuitas dalam hidupnya, dapat dikurangi atau dicegah karena orang
tersebut mempunyai potensi untuk memelihara hubungan yang positif terhadap
nilai dan norma budaya yang dewasa ini atau yang akan datang. Dengan adanya
peran yang positif itulah manusia dapat hidup dalam keseimbangan dengan
lingkungannya. Aliran essensialisme mempunyai konsep yang dapat digunakan oleh
manusia dalam menghadapi diskontinuitas serta mencegah atau menghindarinya.
Seperti halnya
perealisme yang mengambil sikap regressive road to culture, essensialisme
meletakkan dasar-dasar pemikirannya pada kebudayaan dan falsafah yang korelatif
setelah timbulnya renaissance. Puncak refleksi dari gagasan ini adalah paroh
kedua abad ke-19, Essensialisme pada mulanya muncul sebagai reaksi terhadap
simbolisme multlak dan dogmatisme abad pertengahan. Maka, para essensialis
menyusun konsepsi secara sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam
semesta yang dapat memenuhi tuntutan zaman modern.
Dalam hubungannya
dengan pendidikan, Essensialisme menekankan pada tujuan pewarisan nilai
kultural-historis kepada peserta didik melalui pendidikan yang akumulatif dan
terbukti dapat bertahan lama serta bernilai untuk diketahui oleh semua orang.
Pengetahuan ini dilaksanakan dengan memberikan skill, sikap dan nilai-nilai
yang tepat, yang merupakan bagian esensial
dari unsur-unsur pendidikan.
B.
Pandangan Essensialisme dan Penerapan di Bidang Pendidikan
1. Pandangan essensialisme mengenai belajar idealisme, sebagai
filsafat hidup memulai tinjaunnya mengenai pribadi individu dengan menitik
beratkan pada ‘aku’.
Menurut
idealisme, bila seseorang itu belajar pada taraf permulaan adalah memahami
akunya sendiri, lalu bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari
mikrokosmos menuju ke makrokosmos.
2. Pandangan essensialisme mengenai kurikulum beberapa tokoh idealisme
memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan idiil dan
organisasi yang kuat. Bogoslousky mengutarakan, di samping menegaskan supaya
kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan
yang lain, kurikulum dapat di umpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai
empat bagian : 1. Universum: pengetahuan merupakan latar belakang adanya
kekuatan segala manifestasi hidup manusia. 2. Sivilisasi: Karya yang dihasilkan
manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu
mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, dan hidup
aman dan sejahtera. 3. Kebudayaan: Kebudayaan mempakan karya manusia yang
mencakup di antaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan
penilaian mengenai lingkungan. 4. Kepribadian: Bagian yang bertujuan
pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan
kepribadian yang ideal. Dalam kurikulum hendaklah diusahakan agar faktor-faktor
fisik, fisiologi, emosional dan ientelektual sebagai keseluruhan, dapat
berkembang harmonis dan organis, sesuai dengan kemanusiaan ideal.
C.
Prinsip – prinsip Pendidikan menurut aliran Essensialisme
Prinsip – prinsip pendidikan yang didasarkan pada aliran
essensialisme adalah :
1.
Belajar
pada
dasarnya melibatkan kerja keras dan kadang – kadang dapat menimbulkan keseganan
dan menekankan pentingnya prinsip disiplin. Terhadap pandangan progresivisme
yang menekankan minat pribadi, mereka menerimanya sebagai konsep untuk berbuat
namun minat yang paling tinggi dan dapat lebih bertahan tidak diperoleh sejak
awal atau sebelum belajar namun timbul melalui usaha keras.
2.
Inisatif dalam pendidikan harus
ditekankan pada pendidik bukan pada anak. Peranan guru dalam menjebatani antara
duni orang dewasa dengan dunia anak. Guru telah disiapkan secara khusus untuk
melaksanakan tugas di atas sehingga guru lebih berhak membimbing murid –
muridnya.
3.
Inti dari proses pendidikan adalah
asimilasi dari subjek materi yang telah ditentukan. Kurikulum diorganisasikan
dan direncanakan dengan pasti oleh guru. Esensialisme mengakui bahwa pendidikan
akan mendorong individu merealisasikan potensialitasnya tetapi realisasinya
harus berlangsung dalam dunia yang bebas dari perorangan. Karena itu sekolah
yang baik adalah sekolah yang berpusat kepada masyarakat sebab kebutuhan dan
minat sosial diutamakan. Minat individu di hargai namun diarahkan agar siswa
tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri.
4.
Sekolah harus mempertahankan metode
– metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. Esensialisme
mengakui bahwa metode pemecahan masalah ada faedahnya, namun bukan suatu prosedur
untuk melaksanakan bagi seluruh proses belajar.
5.
Tujuan akhir dari pendidikan ialah
untuk meningkatkan kesejahteraan umum, karena dianggap merupakan tuntunan
demokrasi yang nyata.
D.
Ciri – ciri Aliran Essensialisme
Aliran
Essensialisme memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada pandangan
fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang
berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu serta kurang
stabil. Karena itu pendidikan haruslah diatas pijakan nilai yang dapat mendatangkan kestabilan dan telah teruji oleh
waktu, tahan lama dan nilai-nilai yang
memiliki kejelasan dan terseleksi.
E.
Pola
Dasar Pendidikan Essensialisme
Imam Barnadib (1985)11) mengemukakan beberapa tokoh yang berperan
dalam penyebaran aliran essensialisme, dan sekaligus memberikan pola dasar
pemikiran pendidikan mereka.
1.
Desiderius
Erasmus, adalah tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada
“dunia lain”. Ia berusaha agar kurikulum di sekolah bersifat humanistis dan
bersifatninternasional, sehingga semua dapat diikuti oleh kaum tengahan dan
aristokrat.
2.
Johan
Amos Comenius (1592-1670), ia berusaha mensistematiskan proses pengajaran. Ia
juga memiliki pandangan yang realis yang dogmatis.
3.
John
locke (1632-1704), pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan
kondisi.
4.
Johann
Henrich Pestalozzi (1746-1827) mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu
tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan
wajarnya. Selain itu manusia juga mempunyai transendental langsung dengan
Tuhan.
5.
Johann
Friederich Frobel (1782-1852), corak pandangannya bersifat kosmissintetis, dan
manusia adalah makhluk Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini. Terhadap
pendidikan ia memandang anak sebagai makhluk yang berekspressi kretif, dan tugas pendidikan adalah memimpin
peserta didik kearah kesadaran diri sendiri yang murni.
6.
Juhann
Fiedrich Herbart (1776-1841), tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa
seseorang dengan kebajikan dari Yang
Mutlak, yaitu penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan, dan ini yang disebut
“pengajaran yang mendidik” dalam proses pencapaian tujuan pendidikan.
7.
William
T.Harris (1835-1909), menurut dia tugas pendidikan adalah mengizinkan
terbukannya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan
spiritual. Keberhasilan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara
nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri setiap orang kepada masyarakat.
Pada tahun 1930 para tokoh Esensialisme mendirikan organisasi atau
komite: “Essensialist Committee for the Advancement of Education”.
Melalui organisasi inilah pandangan-pandangan essensialis dikembangkan dalam
dunia pendidikan, yang sedikit banyak diwarnai juga oleh konsep-konsep
pendidikan yang idealisme dan realisme, sebab kedua aliran itu mengalir menjadi
satu membentuk konsep-konsep berfikir golongan Essensialisme.
BAB III
PENUTUP
Essensialisme merupakan filsafah pendidikan tradisional yang
memandang bahwa nilai-nilai pendidikan hendaknya bertumpu pada nilai-nilai yang
jelas dan tahan lama. Essensialisme meletakkan dasar-dasar pemikirannya pada
kebudayaan dan falsafah yang korelatif setelah timbulnya renaissance.
Aliran Essensialisme memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada
pandangan fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya
pandangan yang berubah-ubah, mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu
serta kurang stabil. Melalui organisasi Essensialist Committee for the
Advancement of Education” pandangan-pandangan essensialis dikembangkan
dalam dunia pendidikan, yang sedikit banyak diwarnai juga oleh konsep-konsep
pendidikan yang idealisme dan realisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar